Ahad, 26 Ogos 2012

SEKSAAN MENANTI WANITA


Rasulullah S.A.W telah melihat beberapa seksaan yang menimpa wanita . . .
Setiap kali terkenangkan beberapa seksaan yang menimpa wanita yang dilihatnya ketika melalui peristiwa Israk Mikraj, baginda Nabi Muhammad S.A.W pasti akan menitiskan air mata . Lihatlah, betapa sayangnya baginda Rasulullah kepada umatnya terutama kepada wanita.. Dan sebagai wanita Islam seharusnya bersyukur atas kasih sayang baginda..
Antara seksaan yang telah dilihat Baginda ialah :
1- Perempuan yang digantung dengan rambut dan otak di kepalanya yang mendidih.. Mereka ini adalah perempuan-perempuan yang enggan melindungi rambutnya daripada pandangan lelaki bukan muhrim ..
2- Perempuan yang digantung dengan lidah dan tangannya dikeluarkan dari punggung dan minyak panas dituangkan ke dalam kerongkongnya .. Mereka ini adalah perempuan yang suka menyakiti hati suami dengan kata-katanya ...
3- Perempuan yang digantung dengan buah dadanya dari arah punggung dan air pokok zakum dituang ke dalam kerongkongnya . . . Mereka ini merupakan golongan perempuan yang menyusui anak orang lain tanpa kebenaran suaminya ...
4- Perempuan yang diikat kedua-dua kakinya dan dua tangannya sampai ke ubun dan dibelit beberapa ekor ular dan kala jengking ... Mereka ini adalah golongan wanita yang boleh solat dan berpuasa namun tidak mahu mengerjakannya, tidak berwuduk dan mandi junub . . golongan ini juga selalu keluar rumah tanpa izin suami terlebih dahulu dan tidak mandi ( tidak bersuci daripada haid dan nifas )
5- Perempuan yang makan daging tubuhnya sendiri manakala di bawahnya ada api yang menyala .. golongan ini adalah wanita yang berhias untuk dilihat lelaki lain dan suka menceritakan aib orang lain . .
6- wanita yang memotong badannya sendiri dengan gunting dari neraka. Mereka merupakan wanita yang suka memasyhurkan diri sendiri supaya orang melihat akan perhiasannya . . .
Oleh itu, para wanita sekalian .. jika tidak mahu seksaan di atas menimpa kepada diri sendiri maka ikutilah segala perintah ALLAH S.W.T dan tinggalkan larangan-NYA ... apa salahnya jika kita mematuhi segala perintah-NYA .. Sama-sama lah kita renung-renung petikan di atas dan bermuhasabah diri.. Adakah kita tergolong daripada golongan tersebut.. Jika tidak, syukur Alhamdulillah.. Dan jika sebaliknya, cepat-cepatlah kita perbetulkan.. " Biasakan yang betul, Betulkan yang biasa" .. Sesungguhnya pintu taubat sentiasa terbuka kepada hamba-hamba-NYA yang ingin bertaubat ...kebahagiaan akhirat adalah kebahagiaan yang kekal abadi.. kita mencari redha ALLAh bukan redha manusia .. Dan sesungguhnya, keredhaan ALLAH itu terletak pada keredhaan ibubapa kita .. WALLAHUALAM
RENUNG-RENUNGKAN DAN SELAMAT BERAMAL

UJIAN KELAPANGAN DAN KESEMPITAN


Dalam kehidupan ini, terkadang Allah SWT melapangkan dan menyempitkan urusan kita, sebenarnya Allah melapangkan kita, supaya kita tidak selalu dalam berada dalam kesempitan dan Allah menyempitkan kita supaya kita tidak hanyut dalam kelapangan. Allah SWT mengubah-ubah keadaan kita dari kelapangan pada kesempitan,  sedih ke gembira, dari sehat ke sakit, dari kaya ke miskin, dari terang ke gelap, supaya kita mengerti bahwa kita tidak terbebas dari hukum ketentuan-Nya, dan supaya kita selalu berdiri diatas landasan LAA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH (tidak ada daya untuk mengelakkan sesuatu dan tidak ada kekuatan untuk melaksanakan sesuatu, kecuali dengan pertolongan Allah)

Mengutip Kitab Al Hikam, Ibn Atha Illah al-Sakandari, Abu Bakar Assiddiq ra berkata, ”kami diuji dengan kesukaran, maka kami tahan, sabar, tetapi ketika diuji dengan kesenangan atau kelapangan kami hampir tidak sabar atau tidak tahan”  Karena itu  bagi beberapa orang arif, jika merasa lapang lebih khawatir/takut daripada jika berada dalam kesempitan, karena didalam masa kelapangan, hawa nafsu dapat lebih berperan mengambil bagiannya sedangkan dalam masa sempit, hawa nafsu lebih sulit memperdaya.

Namun bagi sebagian orang, justru merasa nyaman-nyaman saja dengan ujian kelapangan yang diberikan Allah, dan kadang ada yang terhanyut dalam ujian kelapangan yang diberikan-Nya, hingga menombor duakan Allah atau bahkan yang terparah melupakan Allah, Sang Pemberi Nikmat dan Kelapangan. Setelah Allah mencabut ujian kelapangan dan menggantinya dengan ujian kesempitan, maka barulah orang itu sedar dan kembali mengingat Allah.

Tidak sedikit dari kita yang tidak mampu menghargai keberadaan Allah dikala senang, disaat lapang, dan baru kembali mengingat-Nya, mencari-Nya, mendekati-Nya, saat berada dalam kesulitan/kesempitan.  Apabila kita tidak ingin, diingatkan oleh Allah melalui ujian kesempitan, ujian kesusahan,  maka ingatlah Allah selagi kita berada dalam kelapangan dan kemudahan.

Tunaikanlah semua kewajiban kita dengan sebaik-baiknya, jangan sampai kita melupakan fitrah kita diciptakan-Nya, yaitu untuk mengabdi kepada-Nya, seperti tertulis dalam firman-Nya di surah Adz Dzariyat ayat 56 Allah swt berfirman :  ”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku/mengabdi kepada-Ku”

Mengutip Al Hikam, Ibn Athaillah al Sakandari, Wahb bin Munabbiih berkata, Allah swt berfirman : “Hai anak Adam, ta’atilah perintah-Ku dan jangan engkau beritahukan kepada-Ku apa yang menjadi hajat keperluan yang baik bagimu (yakni engkau jangan mengajari kepada-Ku apakah yang baik bagimu).  Sesungguhnya Aku telah mengetahui kepentingan hamba-Ku.  Aku memuliakan siapa yang patuh pada perintah-Ku dan menghina siapa yang meremehkan perintah-Ku.  aku tidak menghiraukan kepentingan hamba-Ku sampai hamba-Ku memperhatikan hak-Ku (yakni memperhatikan kewajibannya terhadap Aku)”

Dengan memperhatikan Firman Allah tersebut diatas, sebaiknya kita meyakini, bahwa sebenarnya, hidup kita susah atau senang, sebenarnya itu sangat terkait dan tergantung pada seberapa besar keimanan kita kepada Allah dan pada seberapa besar kita menempatkan Allah dalam hati, sudahkah menjadi prioriti utama? Karena semua Firman Allah pasti benarnya.  Kita ingin hidup kita berjalan mulus, rezeki lancar, dapat meraih cita-cita, tapi kita tidak mementingkan Allah dan mengabaikan Allah yang Maha Pemberi Segala.

Sebenarnya Allah swt, memberikan kita ujian kesulitan, kesempitan, itu untuk kebaikan kita sendiri, untuk menyadarkan kita dari kelalaian jiwa dan ketahuilah Allah swt tidak pernah membuat hamba-Nya menderita, kita menderita karena ulah kita sendiri.


Koleksi Soalan Kuliyah Ustaz Azhar di Masjid Negeri Shah Alam



Berikut merupakan koleksi soalan yang dijawab oleh Ustaz Azhar Idrus di Masjid Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah, Shah Alam, Selangor pada 26 Januari 2012. Terdapat 26 soalan kesemuanya.
1. Orang laki2 takleh pakai perhiasan perempuan. rantai leher perempuan cthnya. “Allah melaknat lelaki pakai pakaian perempuan.” Sembahyang sah wlpn pakai emas. Sembahyang ditulis pahala, pakai yang salah (rantai emas tadi) ditulis dosa.
Pakai sebab sayang kat GF pun ada (haram):
BF: U malam2 pakai baju apa?
GF: I malam2 baju kelawar.
BF: I kelawar jugak.
2. Apa hukum lelaki tangkap curi gambar perempuan?
- Kalau gambar tu haram dilihat, maka gambarnya haram. Kalau publish expose kat public lak gambar tu dan memalukan dia, maka haram. Yang terbaik, kena minta izin tuan punya badan.
Perumpamaan perempuan oleh UAI:
“Org puang ni sama macam Lamborgini. Beli Lamborgini, gi Subang, tukar..buh side mirror Kancil. Org tanya, “Guaner tukar side mirror buh Kancil?” “Nak bagi nampak lawo.” Takdok berlaku. Lamborgini semua molek, luar dalam semua lawa. Tak payah tukar pape dah. Orang puan macam tu gak, semua dah lawa, perfect Allah cipta.” Perempuan itu aurat, bukan semua aurat tapi kebanyakkannya aurat. Yang mana2 amik gambar puang tak pakai tudung tu, henti2kanlah.”
Orang puang dia pakai baju laki pun, orang geram tengok. Tu blm pakai baju perempuan.
3. Berkat atau tak fotostat buku yang dilarang fotostat.
- Fotostat dengan kebenaran adalah lebih baik. Hukumnya dibolehkan. Cari keberkatan dengan minta izin.
4. Saya kije syarikat isteri sy. Gaji 6000 sebulan. Tapi dia bagi 3K je kat saya, 3K lagi dia simpan, tak bagi penuh sebab dia takut sy kawin sorang lagi. Apa hukum?
- Jawabnya, jika kita setuju, oklah. Kalau tak setuju, kerja dengan orang lain.
5. Sorang maknyah tukar jantina lelaki kepada perempuan telah bertaubat. Kena tukar balik ke?
- Tak wajib buat pembedahan semula
- Tanggung akibat tak dapat kahwin dsb.
- Jika mudarat maka tak wajib, jika tak mudarat hanya perlu pembedahan minor, maka perlu bedah balik.
- Sama macam tatoo, kalau satu tubuh penuh tatoo, nak buang balik bahayakan diri, maka tak wajib buang.
6. Pegang tafsir Quran masa haid
- Boleh.
7. Solat pakai pakaian dalam je, tapi pakai kain semayang di luar. Hukum?
- Kalo masa solat, nampak warna kulit belah dalam, tak sah. Kain nipis, tak sah semayang. Yang sah, nampak bayang hitam sebelah dalam. Pakai dua lapis adalah terbaik. Laki camana lak? Sama je. Nampak bayang makruh, nampak warna kulit (aurat kat dalam), batal.
8. Jika solat 5 waktu tidak cukup? Benarkah solat sunat tidak diterima?
Ada tiga pendapat:
- Selama mana tak cukup fardhu, maka tak diterima sebarang sunat.
- hendaklah kita tunaikan solat2 fardhu biar cukup, dan sedikitkan sunat. biar 5 fardhu jgn kurang.
- diterima, sebab kita dah sembahyang.
Yang masyhur, tetap haram dan tidak diterima Allah solat sunatnya, jika tak cukupkan hutang solat fardhu 5 waktu.
9. Apa hukum tak bayar tol?
- Apa tujuan buat tol? Kalau buat tol utk memeras rakyat, takyah bayar. Kalau tujuan utk membiayai jalanraya, jadi wajib bayar melainkan keadaan darurat. Tol yg ada skang, utk maslahat org awam takleh nak beza, maka balik kepada hukum asal yakni kena bayar.
10. Jika isteri kuar tanpa izin, malaikat akan laknat sampai dia kembali semula rumah. Isteri kuar siasat suami ada skandal ke tak cari kebenaran (kemungkinan ada perempuan). Boleh ke?
- Isteri keluar rumah tanpa izin tanpa darurat memang haram. kemungkinan takleh, dia boleh yang PASTI. kalau ada masalah, report kat QADI kejahatan suami spt tak bagi nafkah.
11. Saya photographer part-time. Sy upload gambar tak brtudung. Publish utk marketing je. Hukum?
- Benda yg haram, maka haram kita expose. Tidak boleh letak gambar dedah aurat. Haram magazine2 yg ada gambar2 dedah aurat.
UAI: “Dengan kamera dia boleh masuk syurga jika gambar dia bawa manusia cinta kepada Islam.”
12. Jauh nak pulangkan al-Quran tempat jauh.
- Mesti diwujudkan benda yg sama di tempat tu balik dengan harga yg sama (ganti dengan bank-in duit ke apa ke). Tak perlu pergi ke tempat jauh tu untuk pulangkan.
13. Suami jenis ungkit.
- Tidak baik suami suka bangkit dan ungkit. bangkit boleh, tapi ketika isteri tu lalai utk keinsafan. Suami yang benar2 suami dia berani tukar nyawa dia kepada isteri dia.
UAI:”Rima tangkap bini, tok imam lawan tak ngn rima? sayang bini ke syg rima, kalau syg bini, lawan rima.” UAI: “mmg dop lawan lah. rima tolong amik..alhamdulillah. boleh bini lain.”
UAI: “Payah nak cari yg penyayang macam saya”
14. Jamak ke rumah mentua di Ganu. Umah di Putrajaya. Boleh ke jamak?
- Kita boleh jamak bila musafir, Putrajaya – Tganu sebab bukan rumah kita. tak bermukim di situ.
-3 hari dan kurang – musafir yg singgah. 4 hari dan ke atas – pemukim.
15. Boleh amik air wudhu’ putus2? amik kat rumah, perabis di surau.
- Sunat selesaikan segera amik wudhu’. Nabi SAW pernah amik wudhu’ dua tempat.
16. Dapati suami org lain ada skandal dengan perempuan lain. So kena bgtau isteri dia ke tak yang dia skandal?
UAI: jangan kabor kepada lawang, kabor kepada empunya diri. kita jumpa suami dia cakap ngn org puang. kita takleh kabor kat bini dia. kabor lah kat empunya diri. tanya dia utk tegur dan tahu perkara sebenar. jangan rosakkan rumahtangga orang.
17. Hukum doa fb.
- Berdoa dlm facebook; dengan niatlah jadi hukum yg berbeza2. Tujuan insaf, dapat pahala. Tujuan nak nunjuk2, sia2 perbuatannya. Kongsi doa baik, dapat pahala.
18. Hukum dengar nyanyian perempuan bukan mahram
- perempuan bernyanyi tidak boleh pada ajnabi.
- suara ni ada dua hukum: suara aurat suara bukan aurat. Jika fitnah, haram.
- sebaiknya, perempuan jgn nyanyi di khalayak ramai meskipun lagu2 nasyid.
19. Mengata orang dalam berceramah.
- Kalau laknat, sebut nama boleh ke tak? Kalau yg Allah sudah sebut laknat itu dalam Quran. Boleh kita sebut Allah laknat. ( Spt Allah laknat org kafir )
- “celakalah org yg tidak solat. celakalah org yg minum arak.” – ada dalam nas
- ada nas, baru boleh kata. kalo tade nas, tak boleh kata.
- nasihat; benda yg lembut kita lembut, benda keras kena keras.
- jgn sebut nama kalau nak tegur dalam ceramah.
20. Hukum lelaki simpan rambut panjang:
- Laki boleh rambut panjang jgn sampai nampak macam puang. org kata pompuang takleh.
- Panjang, tapi masih nampak lelaki. boleh.
- Biarlah ada janggut dan misai, bolehlah rambut panjang senang nak cam sebagai lelaki.
- Berambut panjang tidak salah.
21. Ada 2 masjid dalam 100 meter dalam 1 mukim?
- Boleh pegi mana2 masjid, tidak ada masalah.
22. Bab mandi jenazah, aurat si mati bagaimana?
- Aurat mayat sama macam aurat org yg masih hidup.
- Umumnya, aurat wajib tutup antara ayah dan anak – pusat sampai ke lutut. tak boleh pakai spender je depan anak. Anak yg masih kecik tak reti apa2 takpe, tak haram wlpn ayah dia bogel.
- Wajib kena hormat mayat. Minimakan pemandi mayat sehingga 2 orang sebaik2nya. Aib pada mayat jika org lain nampak aurat si mati.
23. Amalan diterima ke tak, menuduh hamba Allah wat benda buruk?
- amalan yg tidak diterima doa, doa org yg makan yg haram.
- kutukan kita berdosa. amalan diterima selagi mana tidak buat benda2 yg menghalang doa diterima.
24. Terlepas rakaat: Tok imam tgh tahiyyat awal, dia baru mari..dia pun duduk tahiyyat. dapat ke tak rakaat? Tak dapat.
25. Bersumpah takkan kawin selain teman wanita? nazar atau sumpah?
- Sumpah dikira bila kata “Demi Allah.” Cth:”Wallah, Tallah”.
- Junjung Quran tak jadi apa, itu bukan sumpah.
- Dia boleh kahwin dengan org lain wlpn dah bersumpah atas nama Allah tp kena bayar kafarah bersumpah, bagi makan org miskin.
- Iktibar lagu maher zain, “barakallahulakuma” utk ucap tahniah org kahwin. bukan kata, “moga kekal ke anak cucu.”
26. Soalan terakhir. Bolehkah sy selalu mandi wajib walaupun tidak junub. alang2 dah mandi, baik mandi wajib.
- Jwbnya: bid’ah. org tak suruh kenapa nak mandi wajib. mandi2 ni perintah Allah, takleh nak main2. mandi wajib ada sebabnya tersendiri. niat bersuci macam biasa je lah (thaharah), dapat pahala.

Jangan Bersangka Buruk Terhadap Bakal Isteri


BY USTAZ NOR AMIN SAYANI BIN ZAINAL -MUNAKAHAT
Saya ada persoalan berkaitan bakal isteri saya. Kami akan berkahwin hujung tahun ini. Masalahnya saya terlalu memikirkan kisah silam bakal isteri saya. Dia mengakui yang dia pernah keluar berdua-duaan dengan kawan lelakinya, walaupun dia tidak berpegangan tangan atau sebaliknya. Hanya setakat keluar makan. Bila saya terkenang pasal itu hati saya terus tidak tenteram. Rasa sakit hati atau hendak marah. Mula memikirkan perkara yang bukan-bukan semasa mereka keluar berdua.. Mohon nasihat ustaz agar hati saya lebih redha dan tenang dengan apa yang telah berlaku sekiranya dia adalah jodoh terbaik saya. Terima kasih ustaz.

Jawapan

Perkahwinan merupakan sunnah Nabi Muhammad SAW yang telah disyariatkan kepada sesiapa yang berkemampuan dari segi zahir dan jasmani. Sesiapa yang membuat keputusan untuk berkahwin hendaklah bersedia dari segala aspek kerana perkahwinan ini bukan sesuatu perkara yang mudah seperti kita membeli ikan di pasar. Banyak benda yang perlu kita fikir dan pertimbangkan seperti agama, rupa paras, keturunan dan harta. Islam telah menyarankan kepada hambanya supaya memilih pasangan berdasarkan agama mereka, bukan berdasarkan rupa paras yang ada kepada mereka. Hadis Nabi Muhammad SAW yang bermaksud :

“Seseorang wanita itu dikahwini kerana empat perkara : Kerana hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Utamakanlah yang mempunyai agama, nescaya kamu akan selamat” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dalam masalah anda ini, setiap manusia tidak terlepas dari melakukan kesalahan dan tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan dan dosa kecuali para nabi dan rasul kerana mereka adalah maksum (dipelihara Allah). Sepatutnya anda perlu memaafkan segala kesalahan yang pernah dilakukan oleh bakal isteri awak, betapa baiknya dia sanggup menceritakan segala kisah silamnya. Sepatutnya anda kena terima secara terbuka, ikhlas serta bersangka baik dan bukan bersangka buruk terhadapnya. Islam juga menyarankan umatnya bersangka baik terhadap orang lain dan kerana bersangka buruk boleh mendatangkan fitnah dan boleh menyebabkan hubungan anda menjadi masalah dengan bakal isteri anda.
Sepatutnya anda kena menerimanya dengan baik walaupun dirinya tidak memenuhi segala kreteria yang anda tetapkan. Hal ini boleh diterima dengan satu cara sahaja iaitu memilih bakal isteri berdasarkan agama seperti menutup aurat, melaksanakan ibadah fardu dengan baik, menghormati orang, lemah lembut, mempunyai akhlak yang mulia atau sebagainya. Anda dan keluarga anda juga tidak akan kecewa kerana wanita yang taat kepada perintah Allah telah tahu apa tugasnya sebagai isteri dan hamba Allah, anda juga tidak perlu mengajarnya menjadi seorang isteri dan menantu yang baik, malah jika anda melakukan kesalahan dia sendiri yang akan menegur dan memberi nasihat kepada anda. Betapa bahagianya bila ada isteri sebegini, sejuk mata dan lembut hati bila bersamanya.
Buangkan segala perasaan negatif terhadap bakal isteri anda kerana ia tidak mendatangkan apa-apa keuntungan kepada diri anda dan keluarga anda. Bila berkahwin tanggungjawab anda besar dan akan bersamanya sampai bila-bila. Jika pada awalnya sudah berperasaan negatif, bagaimana anda hendak menjadi suami yang baik dan bertanggungjawab? Saya juga yakin rumahtangga yang dibina pasti akan timbul masalah yang besar dan ini akan menjadi duri dalam bahtera rumahtangga anda. Bila berlaku sahaja pergaduhan dan pertengkaran masalah silam isteri akan diungkit.
Hidup anda bersamanya juga menjadi tidak nyaman kerana buruk sangka sentiasa bermain di dalam fikiran anda, lama-lama ia akan membuatkan perasaan anda tidak tenteram, waktu itu juga anda akan sentiasa mencari gaduh dengannya walaupun perkara tersebut remeh seperti masakan tidak sedap, air kopi tidak manis atau sebagainya. Masalah ini juga boleh mendatangkan penceraian, bila berlaku cerai anak-anak terabai sehingga menyebabkan anak mencari keseronokan diluar kerana mereka beranggapan ibu bapa mereka bukan tempat untuk mereka bermanja dan mengadu masalah.
Cuba kita perhatikan betapa besar inpak atau kesan dari sangka buruk tadi. Pada awalnya kecil tapi kesannya sangat dalam sehingga boleh menyebabkan pengabaian tanggungjawab di dalam rumahtangga. Bagaimana nanti bila anda mati dan berada di hari perhitungan Allah. Ya ibadah anda sempurna tetapi tanggungjawab terhadap keluarga tidak sempurna disebabkan buruk sangka anda. Keputusannya, Allah memerintahkan diri anda dihumbankan ke dalam neraka Allah disebabkan anda cuai sebagai ketua keluarga. Nauzubillahiminzalik….

Tujuan perkahwinan untuk mencari keseronokkan dan ketenteraman di dalam kehidupan. Orang berkahwin segala keperluan hidupnya dipenuhi seperti kesempurnaan ibadah, seksual, memperolehi keturunan  dan segala yang dapat dinikmati di dalam alam berumahtangga. Kata Imam al-Ghazali di dalam kitabnya al-Ihya' Ulumuddin, terdapat lima tujuan pertama, dapat menghasilkan keturunan supaya dunia ini tidak kepupusan makhluk dari bangsa manusia. Dan seterusnya anak tersebut dapat berdoa untuk kedua ibubapanya setelah kematian mereka. Kedua, menghilangkan tekanan syahwat seks terhadap wanita yang sentiasa datang mengganggu di dalam ibadatnya. Tekanan ini juga akan membawa kepada zina mata atau zina faraj. Dengan perkahwinan seseorang itu dapat memelihara diri dari syaitan yang akan membawa ke arah perkara-perkara yang haram. Ketiga, Membereskan gangguan hati dalam masalah urusan rumahtangga seperti memasak, mengemas, membasuh dan lain-lain. Dengan ini, masanya tidak banyak terbuang hanya untuk urusan tersebut sahaja. Keempat, dengan pergaulan dan percampuran suami isteri dapat menggembirakan serta menjinakkan hati dan perasaan. Di mana perkara ini akan mendorong dan menguatkan hatinya untuk rajin melakukan ibadat. Kelima, dapat bermujahadah melawan hawa nafsu di dalam kehidupan berumahtangga.

AMALAN ORANG HIDUP UNTUK SI MATI


Soalan: Apakah si mati dapat mengambil manfaat dari amalan orang yang masih hidup untuknya?

Jawapan;

Dalam persoalan tersebut ada perkara yang disepakati oleh para ulama’ dan ada perkara yang tidak disepakati (yakni timbul khilaf).

Adapun perkara yang disepakati oleh para ulama’ ialah si mati akan mendapat manfaat dari doa, istighfar, sedekah dan ibadah-ibadah badaniyah-maliyah yang boleh menerima niyabah (gantian) seperti haji dan puasa. Amalan-amalan tersebut telah disepakati oleh para ulamak bahawa ia akan sampai dan akan memberi manfaat kepada si mati di alam barzakh. Dalil-dalil mereka ialah;

1. Firman Allah:

“Dan orang-orang (Islam) yang datang kemudian daripada mereka (berdoa dengan) berkata: "Wahai Tuhan Kami! Ampunkanlah dosa kami dan dosa saudara-saudara kami yang mendahului kami dalam iman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati perasaan hasad dengki dan dendam terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami! Sesungguhnya Engkau Amat Melimpah Belas kasihan dan RahmatMu"”. (al-Haysr: 10)

Ayat di atas menceritakan tentang sikap orang-orang beriman yang datang kemudian selepas generasi sahabat iaitu mereka mendoakan keampunan untuk diri mereka dan juga orang-orang yang sebelum mereka. Ayat tersebut menjadi dalil bahawa memohon keampunan untuk orang yang telah mati akan memberi manfaat untuknya.

2. Doa Nabi s.a.w. kepada Abi Salamah r.a. ketika kematiannya sebagaimana yang diriwayatkan dari Ummu Salamah r.a.:

“Rasulullah s.a.w. masuk kepada jenazah Abu Salamah (pada hari kematiannya) dan sesungguhnya matanya terbuka, lalu baginda memejamkannya (yakni baginda menutup kelopak matanya dengan tangan baginda). Kemudian Nabi bersabda: “Sesungguhnya ruh ketika dicabut, diperhatikan oleh mata (yakni ketika ruh ditarik keluar dari badan, mata melihat ke mana ruh pergi)”. Lalu beberapa orang dari keluarganya berpekikan. Maka Nabi bersabda: “Janganlah kamu menyeru kepada mayat-mayat kamu melainkan dengan suatu kebaikan kerana sesungguhnya para malaikat mengaminkan apa yang kamu ucapkan”. Kemudian Nabi s.a.w. berdoa:
اللَّهمَّ اغْفِرْ لأَبِي سَلَمَةَ، وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّينَ، وَاخْلُفْهُ فِي عَقِبِهِ فِي الْغَابِرِينَ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ، وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ، وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ
“Ya Allah! Berilah keampunan kepada Abi Salamah. Angkatlah darjatnya di kalangan orang-orang yang diberi petunjuk. Jadilah penggantinya bagi anak-anaknya yang masih tinggal. Kurniakanlah keampunan untuk kami dan untuknya, wahai Tuhan sekelian alam. Lapangkanlah untuknya di dalam kuburnya dan terangilah untuknya di dalam kuburnya”.
(Riwayat Imam Muslim)

Hadis di atas menjadi dalil bahawa doa orang hidup akan memberi manfaat kepada si mati sekalipun doa itu bukan datang dari anaknya.

3. Diriwayatkan dari Saidatina Aishah r.a. menceritakan: “Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah s.a.w.; ‘Sesungguhnya ibuku telah mati. Aku mendapatinya jika sekiranya ia berpeluang bercakap (ketika hampir matinya) nescaya ia akan bersedekah (yakni menyuruh agar dikeluarkan sedekah dari hartanya). Maka apakah baginya pahala jika aku bersedekah bagi pihaknya?’. Jawab baginda s.a.w.; ‘Ya’. (Riwayat Imam Bukhari dan Muslim)

Hadis di atas menjadi dalil bahawa sedekah orang hidup memberi manfaat untuk si mati.

4. Diceritakan oleh Ibnu ‘Abbas r.a.; “Seorang perempuan datang kepada Nabi s.a.w. lalu berkata; “Sesungguhnya ibuku telah mati dan tertanggung di atasnya puasa sebulan”. Lalu baginda bersabda: “Apa pandangan kamu jika tertanggung di atas bahunya suatu hutang, apakah kamu akan membayarnya?’. Jawab perempuan itu: “Ya”. Jawab Nabi: “Maka hutang Allah lebih berhak dibayar”. (Riwayat Imam Muslim)

5. Ibnu ‘Abbas r.a. menceritakan; “Seorang perempuan dari Juhainah datang kepada Nabi s.a.w. dan berkata: ‘Sesungguhnya ibuku telah bernazar untuk menunaikan haji, lalu ia mati sebelum sempat mengerjakannya. Apakah aku boleh mengerjakan untuknya?’. Jawab Nabi; ‘Tunaikanlah haji bagi pihaknya. Bukankah jika ibumu menanggung hutang kamu yang akan membayarnya? Tunaikanlah (hutang dengan Allah) kerana Allah lebih berhak (ditunaikan hutang dengannya)’. (Riwayat Imam Bukhari)

Adapun perkara yang diikhtilafkan di antara para ulama’ apakah ia akan sampai kepada si mati atau tidak ialah ibadah-ibadah yang bersifat badaniyah semata-mata seperti bacaan al-Quran, zikir dan sebagainya. Dalam hal ini terdapat dua pandangan;

Pertama: Pandangan jumhur ulamak yang terdiri dari ulamak-ulamak mazhab Hanafi, Hanbali dan golongan mutaakhirin dari mazhab Syafi’ie dan mazhab Maliki dan juga Imam Ibnu Taimiyyah. Mereka berpandangan; bacaan al-Quran dan zikir yang dibaca oleh orang hidup kepada si mati adalah sampai kepadanya dan memberi manfaat untuknya.

Antara dalil mereka ialah hadis dari Abi Said Al-Khudri r.a yang menceritakan; “Beberapa orang sahabat Nabi telah keluar dalam satu perjalanan. Mereka berhenti di satu kawasan penempatan Arab dan minta jadi tetamu. Namun penduduk kawasan itu enggan untuk menerima mereka sebagai tetamu. Kebetulan ketua bagi penduduk kawasan itu disengat binatang. Mereka telah berusaha mengubatinya dengan pelbagai cara namun tidak berjaya. Lalu beberapa orang di kalangan penduduk itu mencadangkan; ‘Kalau kamu pergi kepada mereka itu (yakni kumpulan sahabat Nabi tadi) mungkin mereka mempunyai sesuatu untuk mengubati ketua kita’. Lalu mereka pergi kepada kumpulan sahabat tadi dan bertanya; ‘Wahai saudara sekelian! Ketua kami disengat binatang. Kami telah berusaha pelbagai cara namun tak berhasil. Adakah di antara kamu yang pandai mengubati?’. Jawab seorang sahabat; ‘Ya, aku boleh menjampi. Akan tetapi kami telah meminta dari kamu semua sebentar tadi untuk menjadi tetamu tetapi kamu sekelian enggan menerima kami. Jadi aku tidak akan menjampinya melainkan jika kamu sanggup memberi sesuatu kepada kami’. Mereka bersetuju untuk memberi hadiah dengan sebahagian daging kambing. Lalu sahabat itu merawati ketua kaum itu dengan menjampinya dengan membaca surah al-Fatihah. Berkat al-Fatihah itu, ketua kaum itu terus sembuh dan bingkas bangun seperti orang yang terlepas dari ikatan, seolah-olah tidak pernah sakit. Apabila sahabat-sahabat tadi ingin membahagikan daging kambing yang dihadiahkan kepada mereka, berkata sahabat yang menjampi tadi; ‘Jangan kita bahagikan lagi sehingga kita bertanya Nabi terlebih dahulu’. Apabila mereka menceritakan kepada Nabi s.a.w., baginda berkata; “Bagaimana kamu tahu bahawa ia (yakni surah al-Fatihah) adalah jampi?”. Baginda berkata lagi ; “Apa yang kamu lakukan itu adalah betul (sah / halal). Bahagikanlah daging itu dan jadikanlah dalam pembahagian itu satu bahagian untukku”. (Hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan hadis ini, para ulama’ tersebut menyimpulkan; ‘Bacaan al-Quran jika diqasadkan untuk manfaat orang hidup (seperti untuk menyembuhkan penyakit dalam hadis di atas), maka surah itu memberi manfaat kepadanya dan diakui oleh Nabi dengan kata baginda; ‘Bagaimana kamu tahu bahawa ia (yakni surah al-Fatihah) adalah jampi?’, maka tidak ada sebab untuk kita menafikan manfaatnya untuk orang mati, malah ia lebih aula (utama)’. (Lihat; Al-Fiqhul-Islami wa Adillatuhu, Syeikh Wahbah az-Zuhaili, jil. 2, hlm. 552).

Selain itu dikiaskan juga masalah ini kepada doa, istighfar, dan sedekah tadi yang disepakati oleh sekelian ulamak bahawa ia akan sampai kepada si mati dan memberi faedah untuknya. Jika doa, istighfar dan sedekah akan sampai kepada si mati maka tidak mustahil bahawa bacaan al-Quran, zikir dan tahlil juga akan sampai dan memberi manfaat kepadanya lebih-lebih lagi jika amalan-amalan tersebut disusuli dengan doa selepasnya. Ini sebagaimana yang disarankan oleh Imam Ibnu as-Sholah; “Hendaklah bacaan al-Quran atau zikir itu diakhiri dengan ucapan:

اَللَّهُمَّ أَوْصِلْ ثَوَابَ مَا قَرَأْنَاهُ لِفُلاَنٍ
“Ya Allah! Sampaikanlah pahala apa yang telah kami bacanya kepada si fulan…”.

Di mana dengan ucapan tersebut, kita menjadikannya sebagai doa untuk si mati dan telah dinyatakan tadi bahawa doa orang hidup bermanfaat untuk si mati. Hal ini telah dipersetujui oleh sekelian ulama’.

Selain itu bacaan al-Quran dan zikir yang dilakukan untuk si mati dapat juga kita anggap sebagai tawassul dari orang hidup kepada Allah untuk mendoakan kesejahteraan si mati di alam kuburnya. Terdapat nas dari al-Quran dan juga as-Sunnah membenarkan kita bertawassul dengan amal-amal soleh kita untuk memohon agar doa dan permohonan kita di makbulkan Allah.

Dalam soheh Imam al-Bukhari dan Muslim terdapat hadis di mana Rasulullah s.a.w. menceritakan kisah tiga orang pemuda yang terperangkap di dalam sebuah gua dan baginda tidak membantah perlakuan mereka yang berdoa dengan bertawassulkan amalan soleh sehinggalah Allah memakbulkan doa mereka dan menyelamatkan mereka dari kecelakaan. (Lihat hadis ini dalam Riyadhus-Salihin, bab al-Ikhlas).

Pandangan kedua: Padangan dari golongan awal (mutaqaddimin) dari ulamak-ulamak mazhab Maliki dan Syafi’ie. Mereka berpandangan; bacaan al-Quran dan zikir (serta semua ibadah-ibadah badaniyyah yang lain seperti sembahyang) tidak akan sampai kepada si mati. Pahalanya hanya untuk orang yang melakukannya sahaja, tidak akan sampai kepada si mati. Dalil mereka ialah firman Allah:

“Dan bahawa sesungguhnya tidak ada (balasan) bagi seseorang melainkan (balasan) apa yang diusahakannya”. (an-Najm: 38)

Namun dijawab oleh ulamak-ulamak yang berpandangan pertama tadi; ayat di atas adalah umum dan keumumannya telah ditakhsiskan oleh hadis-hadis sahih yang menyebutkan tentang doa, istighfar dan sebagainya tadi yang sampai kepada si mati sekalipun bukan datang dari amalan atau usaha darinya. Ada ulamak berpendapat; ayat tersebut ditujukan untuk orang kafir iaitu balasan siksa terhadap mereka tidak lain adalah akibat dari usaha dan perbuatan mereka di dunia. (Lihat; At-Tajul-Jami’ Lil-Ushul Fi Ahadis ar-Rasul, Syeikh Manshur ‘Ali Nashif, jil. 1, hlm. 384, Subulus-Salam, Kitab al-Janaiz dan kitab al-Hajj)

Wallahu A’lam.

Rujukan; 

1. At-Tajul-Jami’ Lil Ushul Fi Ahadis ar-Rasul, Syeikh Mansur Ali Nasif, Dar al-Fikr, Beirut-Lubnan (1992).
2. Subulus-Salam, (Kitab al-Janaiz dan kitab al-Hajj), Dar al-Furqan, Jordan.
3. AL-Fiqh Islami Wa Adillatuhu, Dr. Wahbah az-Zuhaili, Dar al-Fikr, Damsyiq-Syria (1985).

KEDUDUKAN DARA DALAM PERKAHWINAN?


Soalan; assalaamualaikum,.. saya mahu bertanya, pentingkah dara dalam mendirikan rumahtangga? berdosakah perempuan yang melakukan zina dengan paksaan??

Jawapan;

1. Apa sahaja kesalahan yang dilakukan dengan paksaan, orang yang melakukannya kerana dipaksa itu tidak dianggap berdosa di sisi Syariat sebagaimana sabda Nabi -sallallahu 'alaihi wasallam-; "Sesungguhnya Allah menggugurkan dari umatku (dosa yang mereka lakukan kerana) tersalah, terlupa dan yang dipaksa ke atas mereka" (HR Ibnu Majah dari Ibnu 'Abbas -radhiyallahu 'anhu-). Tetapi hendaklah paksaan itu yang benar-benar paksaan iaitu yang menafikan kehendak diri, iaitu orang yang melakukannya tidak redha dengan apa yang berlaku ke atas dirinya.

2. Mengenai dara, tidaklah seorang wanita (atau walinya) wajib mendedahkan keadaan dirinya kepada lelaki yang meminangnya apakah ia masih mempunyai dara atau tidak. Dan apabila seorang lelaki mengahwini seorang perempuan, kemudian ia mensyaki isterinya telah tidak mempunyai dara, apabila ia bertanya isterinya, tidaklah wajib isteri menjawab soalan itu (dalam kata lain; tidaklah perlu ia mendedahkan kisah silamnya kepada suami). Jika suami ingin menceraikannya kerana sebab tersebut terpulanglah kepada suami (kerana kuasa talak/cerai ada pada suami), tetapi itu bukanlah akhlak yang baik. Suami hendaklah berbaik sangka terhadap isterinya kerana hilang dara tidak semestinya kerana berzina, ia mungkin terjadi dengan sebab lain (kerana terjatuh, darah haid terlalu banyak, kerana tertusuk sesuatu atau sebagainya). Malah sekalipun isterinya pernah berzina pada masa silamnya, tidak perlu suami mencungkil masa silam isterinya apabila isterinya telah menampakkan kesolehannya pada pandangan zahirnya (kerana itu menunjukkan ia telah bertaubat kepada Allah). Keaiban yang telah ditutup Allah tidak perlulah kita membukanya. Sabda Nabi –sallallahu ‘alaihi wasallam-; “Sesiapa menutup keaiban seorang muslim yang lain, Allah akan menutup keaibannya di hari kiamat” (HR Imam al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Umar).

Nabi juga pernah bersabda; “Jauhilah oleh kamu sekelian perbuatan keji (zina, minum arak dan sebagainya). Sesiapa yang pernah melakukan sesuatu darinya, hendaklah ia menutup diri dengan tutupan Allah (yakni jangan ia mendedahkan apa yang disembunyikan Allah) dan hendaklah ia bertaubat kepada Allah, kerana sesiapa membuka perihal dosanya kepada kami (pemerintah) kami pasti akan melaksanakan ke atasnya hukuman yang ditetapkan oleh Kitab Allah” (HR al-Hakim dan al-Baihaqi dari Ibnu ‘Umar. Hadis ini menurut Imam as-Suyuti; soheh. Lihat; al-Jami’ as-Saghier, hadis no. 175).

Berkata Imam al-Munawi –mengulas hadis ini-; “Difahami dari hadis ini; sesiapa telah melakukan sesuatu dari maksiat, hendaklah ia menyembunyikannya (yakni tidak mendedahkannya kepada orang lain). Dari itu, adalah ditegah perbuatan mengintip orang yang melakukan maksiat kerana itu membawa kepada melubangi/mengoyak tutupan Allah (kepada hambaNya)..Terdapat syair menyebutkan;
Jangan kamu mencari keaiban manusia yang tersembunyi,
Nanti Allah akan membuka tirai yang menutup keaibanmu.

(Faidhul-Qadier)

3. Dikecualikan jika bakal suami telah mensyaratkan (kepada bakal isterinya atau kepada walinya); hendaklah bakal isterinya itu seorang yang masih dara, pada ketika itu -jika bakal isteri telah tidak mempunyai dara- hendaklah berterus terang, tetapi tidaklah wajib memberitahu punca ketiadaan dara itu. Keaiban diri kita (atau orang lain), jika perlu diberitahu kepada orang lain, kita hanya harus memberitahu sekadar perlu sahaja, bukan menceritakan segala-galanya. Jika bakal isteri atau walinya menipu dalam masalah ini -sedang bakal suami telah meletakkan syarat sebegitu-, menurut sebahagian ulamak; setelah berlaku akad, suami mempunyai hak khiyar (hak memilih) antara meneruskan akad atau membatalkannya (yakni memohon agar dibatalkan perkahwinan dan menuntut gantirugi maskahwin dari orang yang menipunya).[1]

4. Apabila seorang lelaki ingin memilih seorang wanita untuk menjadi isterinya, apa yang disuruh oleh Nabi untuk diperhatikan ialah agamanya. Sabda Nabi; “Dikahwini seorang perempuan itu kerana empat sebab; kerana hartanya, kerana keturunannya, kerana kecantikannya dan kerana agamanya. Kamu pilihlah perempuan yang patuh kepada agama. Jika tidak kamu akan rugi/kecewa”. (Riwayat Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud, an-Nasai dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-)

Maksud memerhati agama bukanlah dengan bertanya ia ada dara atau tidak?, tetapi dengan melihat kesolehannya; cara berpakaiannya, akhlaknya, ibadahnya, pergaulannya dan sebagainya. Sekalipun seorang wanita pernah terlanjur pada masa silamnya, namun pada masa kini ia telah berubah menjadi wanita yang solehah dan menjaga agama (menutup aurat, menjaga akhlak dan pergaulan, menjaga ibadah), ia termasuk dalam wanita yang menjaga agama yang dimaksudkan oleh Nabi. Dalam keadaan lain pula, jika seorang wanita belum pernah terlanjur, tetapi keadaan semasanya tidak menampakkan kesolehan (tidak perpakaian secara Islam, tidak menjaga ibadah dan pergaulan) ia bukanlah wanita yang menjaga agama sekalipun mungkin daranya masih ada.

3. Kesimpulannya, ketiadaan dara tidaklah menjejaskan akad perkahwinan, cuma ia dianggap suatu kekurangan. Wujudnya kekurangan sebegitu pada pasangan tidaklah menjejaskan akad kecualilah jika disyaratkan sebagaimana dijelaskan tadi.


Wallahu a'lam.

Rujukan;

1. at-Talaq, Dr. Muhammad Ibrahim al-Hifnawi, hlm. 190
2. Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, perkataan; Bikarah.
3. Faidhul-Qadier, Imam al-Munawi, hadis no. 175 dan 2114, 3372.

Nota hujung;

[1] Iaitu pandangan mazhab Maliki dan sebahagian ulamak mazhab Syafiie dan Hanbali. Pandangan lain (iaitu mazhab Hanafi); perkahwinan tetap sah sekalipun syarat yang dipersetujui itu dilanggari. Dalam mazhab Syafiie terdapat dua pandangan bagi masalah seperti di atas (yakni masalah pelanggaran terhadap suatu sifat yang disyaratkan oleh suami bagi bakal isterinya);
Pertama; perkahwinan adalah terbatal. Jika isteri belum disetubuhi, tidak wajib ia membayar sebarang maskahwin kepadanya. Jika telah disetubuhi, wajiblah ia membayar maskahwin misil kepada isterinya, kemudian ia menuntut ganti rugi maskahwin itu dari orang yang terlibat menipunya.
Pandangan kedua; perkahwinan tetap sah, kemudian bagi sifat yang dilanggari itu hendaklah dilihat; jika sifat yang dilanggari itu lebih baik dari yang disyaratkan, tidak ada pilihan bagi suami untuk membatalkan akad. Namun jika didapati ia lebih bawah dari sifat yang disyaratkan, suami mempunyai pilihan untuk membatalkan akad. Sebahagian ulamak berkata; tidak perlu hak memilih kepada suami kerana ia mempunyai kuasa talak. Ia berbeza dengan pihak perempuan yang tidak mempunyai kuasa talak, maka diberi kepadanya hak memilih bagi kes sebegini. (Takmilah al-Majmu’, 16/287, 16/289).
(Lihat; at-Talaq, Dr. Muhammad Ibrahim al-Hifnawi, hlm. 190).

IBU TIRI KEPADA ISTERI; ADAKAH MENJADI MAHRAM SUAMI?


Soalan; assalamualaikum....ape hukum suami bersalam dgn mak mentua? mak mentua tu bukan mak kandung istri, macam istilah org kmpung paggil mak tiri (kepada isteri), mintak dalil dan kitab rujukn. syukran

Jawapan;

Ibu/emak tiri kepada isteri tidak termasuk dalam senarai mahram muabbad (yakni orang-orang yang haram dikahwini oleh seorang lelaki buat selamanya). Oleh itu, statusnya sama seperti wanita ajnabi yang lain iaitu tidak boleh bersentuhan dengannya (termasuk bersalaman), berdua-duaannya dengannya, melihat auratnya dan menemaninya untuk bermusafir.

Ikatan mahram wujud dengan tiga sebab;
1. Kekeluargaan
2. Perkahwinan
3. Penyusuan

Ia disebut oleh Allah dalam firmanNya dalam surah an-Nisa' (bermaksud); "Diharamkan kepada kamu berkahwin dengan (perempuan-perempuan yang berikut): ibu-ibu kamu, dan anak-anak kamu, dan saudara-saudara kamu, dan saudara-saudara bapa kamu, dan saudara-saudara ibu kamu dan anak-anak saudara kamu yang lelaki, dan anak-anak saudara kamu yang perempuan, dan ibu-ibu kamu yang telah menyusukan kamu, dan saudara-saudara susuan kamu, dan ibu-ibu isteri kamu, dan anak-anak tiri yang dalam pemuliharaan kamu dari isteri-isteri yang kamu telah campuri; tetapi kalau kamu belum campuri mereka (isteri kamu) itu (dan kamu telahpun menceraikan mereka), maka tiadalah salah kamu (berkahwin dengannya). Dan (haram juga kamu berkahwin dengan) isteri anak-anak kamu sendiri yang berasal dari benih kamu. Dan diharamkan kamu menghimpunkan dua beradik sekali (untuk menjadi isteri-isteri kamu), kecuali yang telah berlaku pada masa yang lalu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani" (Surah an-Nisa', ayat 23-24).

Bagi ikatan mahram dengan sebab perkahwinan, hanya empat orang sahaja yang terbabit;
1. Ibu-ibu kepada isteri
2. Anak menantu (yakni isteri kepada anak lelaki).
3. Anak tiri
4. Ibu tiri (yakni isteri bapa)

Dalam ayat di atas, Allah menyebutkan ummahatu nisaikum yang bermaksud ibu-ibu kepada isteri-isteri kamu iaitulah wanita yang melahirkan isteri kamu dan yang melahirkan ibu kepada ibu isteri kamu dan ibu kepada bapa isteri kamu (yakni wanita-wanita yang menjadi asal-usul kepada isteri kamu merangkumi ibunya dan juga nenek-neneknya sama ada sebelah bapanya atau ibunya), dalam ungkapan lain; ibu dan neneka-nenek isteri kerana hubungan nasab (antara mereka dengan isteri).[1] Oleh itu, tidak masuk dalam pengertian ummahatu nisaikum itu ibu tiri kerana ibu tiri bukanlah ibu dari hubungan nasab, tetapi muncul kerana perkahwinan dengan bapa.

Oleh kerana ibu/emak tiri kepada isteri tidak tersenarai dalam senarai mahram di atas, hubungan dengan suami kekal sebagai wanita ajnabi dan tertakluk dengan hukum-hakam wanita ajnabi tadi. Di antara mereka berdua (yakni antara suami dan ibu tiri isteri) halal berkahwin.

Wallahu a'lam.

Nota;

[1] Diharamkan juga ke atas suami mengahwini ibu dan nenek isteri kerana susuan (yakni ibu susunya dan neneknya kerana ikatan penyusuan) kerana Rasulullah bersabda; "Diharamkan kerana penyusuan sebagaimana diharamkan kerana nasab".

Rujukan;

1. Tafsir al-Baghawi, Surah an-Nisa', ayat 23.
2. Fatawa Syekih Muhammad Soleh al-Munajjid, no. 154007.