Sabtu, 3 November 2012

Meneladani Kehidupan Rumah Tangga Rasulullah


Dalam sebuah hadits  Rasulullah SAW bersabda :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأََهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأََهْلِي

Artinya : ”sebaik-baik diantara kamu adalah yang terbaik kepada keluarganya, dan aku adalah sebaik-baik diantara kamu terhadap keluargaku” (H.R. Tirmidzi)

Sebagai seorang Muslim sudah selayaknya menjadikan Rasulullah sebagai panutan dalam berbagai hal termasuk dalam berumah tangga. Dengan berharap bisa menjadi suami/ayah yang baik terhadap istri dan anaknya (karena tersus terang saja sampai saat ini masih sulit bagiku untuk menjadi suami/ayah yang baik buat anak/istrinya) maka tulisan ini mencoba mengajari diri saya sendiri untuk meneladani prilaku Rasulullah SAW terhadap keluarganya. Dalam berumah tangga Rasulullah adalah sosok yang patut dibanggakan karena beliau adalah :

A.     Ayah Teladan

Dia dikenal sebagai seorang ayah yang penuh perhatian kepada anak-anaknya, meskipun mereka sudah dewasa dan berkeluarga. Ketika hendak berangkat perang Badar, Rasulullah berpesan kepada Usman bin Affan untuk tidak ikut berperang dan disuruh menjaga istrinya, Ruqayyah putrid Rasulullah SAW yang sedang sakit. Tak lama kemudian Ruqayyah meninggal dunia, sekembalinya dari perang badar yang pertama kali beliau lakukan adalah pergi ke pusara putrinya itu bersama-sama Fatimah putrid bungsunya yang saat itu masih berumur 20 tahun.

B.      Mertua Pengertian

Satu minggu setelah pulang dari perang badar Rasulullah mendorong Ali Bin ABi Thalib untuk melamar Fatimah secara resmi. Pada mulanya Ali ragu karena merasa dirinya miskin, meski telah memiliki tempat tinggl sederhana. Tetapi mengingat yang meminta itu adalah Rasulullah, Ali pun menyatakan kesediaannya.

C.   Datuk Penyayang

Seringkali Rasulullah membawa cucunya hasan dan husen ke mesjid dengan menggendongnya di bahu. Ketika ia berdiri dan membaca ayat-ayat dalam shalat sang cucu tetap berada dalam gendongannya. Baru ketika ia hendak melakukan rukuk dan sujud sang cucu diturunkan untuk kemudian digendong lagi ketika hendak berdiri pada rakaat selanjutnya.

D.     Suami teladan

Sebagai seorang suami banyak sekali perbuatan-perbuatan Rasulullah yang harus kita teladani, dan alangkah mulianya seorang suami jika bisa melakukan perbuatan-perbutan yang dicontohkan oleh Rasulullah, walu mungkin pada zaman sekarang ini aka nada orang yang mengatakan sebagai suami yang takut istri (naudzu billah), perbuatan Rasulullah yang mulia terhadap istrinya dan tidak menurunkan martabat kerasulannya itu diantaranya adalah :

1.      Suami membukakan pintu Kenderaan atau Rumah untuk Istrinya.

Tidaklah berlebihan dan tidak pula dapat merendahkan martabat suami dihadapan istrinya jika sang suami membukakan pintu rumah atau mobil untuk istrinya. Dan hal ini bukanlah aib atau kemunduran justru ini adalah ahlaq mulia yang dapat menumbuhkan sikap sayang dan perhatian dari suami terhadap istri yang pada gilirannya akan dibalas dengan sikap hormat dan ketaatan dari istri terhadap suaminya. (kecuali istri-istri yang tidak pandai bersyukur, karena dia hanya akan memanfaatkan kebaikan akhlaq suaminya untuk memperbudak suaminya sendiri  -naudzubillah).
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan, “Bahwasanya Rasulullah duduk di sisi unta beliau. Kemudian Beliau meletakan lututnya, lalu istri beliau Shafiyah meletakkan kakinya di atas lutut Nabi saw hingga ia naik ke unta” (subhanallah betapa mulia akhlaqmu Ya Rasulullah).

2.      Mencium Isteri sebelum pergi dan datang dari bepergian

Sangatlah indah jika ketika hendak pergi suami mencium istrinya dan istri memberikan ciuman kepada suaminya. Begitu juga ketika datang istri menyambut kedatangan suami dengan ciuman   penuh kemesraan. Ciuman yang tulus penuh kesucian dan kehormatan adalah senjata ampuh untuk melawan segala rayuan yang terjadi setiap hari dan tersebar dimana-mana.
Diantara hal yang diamanahkan Rasulullah adalah anjuran kepada para suami agar mencium istrinya sebelum pergi ke kantor atau ke luar kota. Aisyah berkata : “Rasulullah menciumku, kemudian beliau pergi ke mesjid untuk melakukan shalat tanpa memperbarui wudlunya” (H.R Abdurrazaq, Ibnu Majjah, Aththabrani, dan Daraqutni)

3.      Makan sepering berdua

Rasulullah telah memberikan contoh untuk makan sepirng berdua dengan istrinya, hal itu dimaksudkan untuk menunjukkan kecintaan kepada sang istri bahkan Rasulullah meletakkan mulutnya di bekas mulut istrinya pada gelas yang sama.
Aisyah berkata : “Pernah aku minum, sedangkan aku pada saat itu sedang haid. Kemudian aku memberikan minuman tersebut kepada Rasulullah saw dari bejana yang sama, dimana beliau menempelkan mulutnya persis ditempat bekas aku minum, lalu beliau minum. … (H.R. Muslim)

4.      Berlemah lembut dan menemani istrinya yang sakit

Diriwayatkan oleh Aisyah RA bahwa, Nabi saw adalah orang penyayang lagi lembut. Dan beliau akan menjadi orang yang sangat lembut dan paling banyak menemani ketika istrinya sedang sakit (H.R. Bukhori dan Muslim)

5.      Bersenda gurau dan membangun keakraban

Nabi saw adalah orang yang romantis dan lemah lembut kepada keluarganya, sering becanda tapi tetap penuh adab dan sopan santun serta keluhuran akhlaq. Sikap romantic belaiu sangat mengagumkan dan menakjubkan, seperti terlukis dalam salah satu hadits. “Rasulullah adalah orang yang paling banyak bergurau, bersama istri-istri belia. Maksudnya Rasulullah adalah orang yang tidak kaku apalagi kasar terhadap istri dan keluarganya tetapi banyak bercanda,  bergurau, dan bergembira.

6.      Tetap Romantis dan akrab saat istri sedang haid.

Keromantisan Rasulullah tetap terasa oleh Aisyah istrinya walaupun Aisyah dalam keadaan haid, dalam suatu riwayat diceritakan bahwa Rasulullah pernah meminta Aisyah untuk mengahangatkan tubuhnya padahal Aisyah dalam keadaan haid, Rasulullah berkata : “Mendekatlah kepadaku, hangatkanlah diriku, hangatkanlah diriku !”. Lalu kukatakan pada beliau, “saya sedang haid”. Beliau berkata, “walaupun engkau sedang haid, singkaplah kedua pahamu”. Lalu kubukakan kedua pahaku dan beliau meletakkan pipi dan kepalanya (juga dadanya) di atas kedua pahaku (aku mendekap beliau) hingga beliau merasa hangat dan tertidur. (H.R. Bukhari)

7.      Mandi Bersama

Dalam waktu senggang memang sangat baik suami istri bisa saling memandikan satu sama lainnya, baik karena kebutuhan kesehatan atau untuk menjalin kaharmonisan, bahkan mungkin untuk kepentingan ta’lim (pembelajaran), karena mungkin saja seorang istri belum memahami bagaimana cara mandi besar (mandi wajib sehabis junub)yang benar, maka seorang suami berkewajiban mengajarkan istrinya agar bisa melaksanakan mandi besar yang benar.
Berkata Aisyah :  ”Aku mandi bersama Rasulullah SAW dalam satu bejana, aku mendahuluinya dan ia mendahuluiku (mengambil wadah) sampai-sampai ia berkata : “tinggalkan untukku”, dan aku berkata, “tinggalkan untukku. (H.R. An Nasai)

8.      Mengajak istri makan di luar sambil refreshing.

Dari Anas bahwa rasulullah SAW memiliki tetangga berkebangsaan Persia. Dia telah memasak kuah yang enak untuk Rasulullah. Kemudian dia mendatangi Rasulullah dan mengundang makan. Rasulullah berkata : “dengan dia?” sambil menunjuk kepada Aisyah. Dia (orang Persia) berkata : “tidak”. Kemudian Rasulullah berkata : “kalau begitu tidak”. Kemudian tetangga itu datang lagi mengundang Rasulullah . Rasulullah berkata : “dan bagaimana dengan orang ini (Aisyah) ?. Orang Persia itu berkata : “tidak”. Rasulullah berkata : “jika begitu tidak”. Kemudian orang itu kembali lagi mengundang Rasulullah. Rasulullah saw berkata : “dengan dia?”. Orang Persia itu menjawab, “Ya boleh”. Kemudian Rasulullah SAW dan Aisyah pun berjalan berurutan hingga mendatangi rumah tetangga beliau tadi.(HR.Muslim)

9.      Saling membersihkan setelah berhubungan

Aisyah berkata : “seyogyanya bagi seorang istri yang cerdik, hendaklah ia mengambil secarik kain. Dan apabila suaminya menggaulinya, ia pun menyerahkan kain tersebut kepada suaminya. Lalu suami mengusap (sperma) darinya. Dan istrinya pun mengusap (sperma atau benda=cairan lain) darinya (ibnu Qudamah).

10.  Bersandar di atas dada Istri dan tidur di atas pahanya

Suatu gambaran yang indah, manakala punggung Rasulullah SAW bersandar pada perut “Aisyah, sedangkan kepala beliau berada di dadanya. Ini melukiskan, keserasian, keharmonisan, dan kesatuan jiwa antara suami istri yang saling mencintai.

11.  Suami Istri berpelukan saat tidur

12.  Prilaku Rasulullah yang menggambarkan tentang hal ini sama dengan riwayat nomor enam (Tetap Romantis dan akrab saat istri sedang haid)

13.  Mengajak Istri Pergi Ke Luar Kota

Aisyah berkata, “adalah Rasulullah saw apabila hendak ke luar kota, beliau mengundi diantara istri-istrinya. Maka jatuhlah undian pada Aisyah dan Hafsah. Kemudian keduanya ke luar dengan beliau bersama-sama (H.R Bukhori)

14.  Suami Menyuap Istri

Saling menyuapi antara suami istri dapat memecahkan kebekuan rutinitas sehari-hari. Selain itu hal ini juga dapat menambah kecintaan, memperkokoh keharmonisan keluarga. Rasulullah saw bersabda : “Tidaklah kamu memberi satu nafkahpun yang kamu niatkan untuk megharap wajah Allah SWT kecuali kamu akan diberi pahala atasnya, hingga apa yang kamu letakan pada mulut istrimu”. Dalam riwayat lain disebutkan “sesungguhnya apapun yang kamu nafkahkan, maka hal itu adalah sedekah hingga suapan yang kamu suapkan ke mulut istrimu”. Dalam riwayat lain, “kamu menaruh (suapan) pada mulut istrimu (H.R. Bukhori)

15.  Mencium istri dari waktu ke waktu

Aisyah meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW menciumnya sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa. Kemudian beliau bersabda, “sesungguhnya ciuman itu tidak membatlkan wudlu dan tidak membuat buka orang yang berpuasa”.
Dan beliau berkata, “wahai humaira (panggilan untuk Aisyah) sesungguhnya dalam agama kita terdapat kelapangan”. Rasulullah tetap berpuasa, beliau mencium di bagian mana saja bagian wajahku hingga beliau berbuka. (H.R. An Nasai dalam sunan al kubra)

16.  Suami mengantar istri ketika ke luar

Sayyidah Shafiyah binti Huyay, istri Nabi SAW berkata : “Rasulullah saw sedang beritikaf. Kemudian aku mendatangi beliau dan menjenguknya pada malam hari, dan aku berbincang-bincang dengan beliau. Lalu aku berdiri hendak kembali. Beliau kemudian berdiri bersamaku untuk mengantarku (menemani Shafiyah sampai ke pntu), dan beliau berkata : “jangan terburu-buru hingga aku mengantarmu (H.R. Bukhori dan Muslim)

17.  Suami istri berjalan-jalan di malam hari.

Aisyah berkata, “adalah Rasulullah saw apabila hendak ke luar kota, beliau mengundi diantara istri-istrinya. Maka jatuhlah undian pada Aisyah dan Hafsah. Kemudian keduanya ke luar dengan beliau bersama-sama. Dan Rasulullah apabila datang waktu malam, beliau berjalan bersama Aisyah dan berbincang-bincang dengannya”.  (H.R Bukhori)
18.  Istri menyisir rambut suaminya
Dalam sebuah riwayat Aisyah berkata, bahwa Nabi saw jika beritikaf beliau mendekatkan kepalanya kepadaku. Kemudian aku menyisirnya, sedangkan aku dalam keadaan haid (H.R. Bukhari)

19.  Istri menaburkan parfum ke badan suaminya

Aisyah r.a berkata : “Aku meminyaki Rasulullah SAW, kemudian beliau berkeliling kepada istri-istrinya. Lalu beliau berihram dan menyebarlah bau minyak wangi (H.R. Bukhari)
Dan Aisyah berkata : “Aku telah meminyaki Rasulullah saw dengan sebaik-baik minyak wangi (H.R. Bukhari)

20.  Ungkapan cinta dan kasih sayang setiap hari

Berterus terang tentang cinta dan mengungkapkan perasaan sayang terhadap istri merupakan salah satu seni bergaul yang dicontohkan Rasulullah saw. Alangkah baiknya sang suami memanggil istri dengan nama terbaik yang disukainya. Bisa juga disampaikan panggilan-panggilan sayang seperti honey, yayang, my queen, my darling, dear, neng, diajeng, atau sapaan khusus hanya suami istri saja yang tahu.
Seringkali Rasulullah memanjatkan Aisyah dengan ucapan “wahai Humaira” (panggilan sayang untuk Aisyah).

21.  Meletakkan pipi di atas pipi

Diantara keharmonisan lain Rasulullah adalah mengajak istrinya ke tempat hiburan dan duduk berdampingan dengan mesra. Aisyah berkata “bahwasanya Rasulullah sedang duduk kemudian terdengar oleh  kami kegaduhan dan suara anak-anak. Rasulullah kemudian berdiri dan ketika itu ada seseorang yang sedang menari dan anak-anak berada disekitarnya. Beliau lalu berkata : “wahai Aisyah kemarilah dan lihatlah (apakah engkau ingin melihatnya?) lalu kujawab, “ya”. Lalu beliau memberdirikanku dibelakan beliau dan pipiku di atas pipi beliau. Dan kuletakan bahuku di atas bahu Rasulullah SAW (H.R. Bukhari).

22.  Suami Istri membiasakan berolah raga

Aisyah berkata : “Aku keluar bersama Rasulullah SAW (dalam sebuah perjalanan) dan ketika itu aku masih ramping. Lalu kami berhenti di sebuah tempat perhentian, kemudian ia berkata kepada para shahabatnya, “majulah kalian terlebih dahulu (untuk berlomba)”. Hal itu dilakukan agar tidak ada dari mereka yang melihat gerakan istri beliau saat perlombaan. Kemudian beliau berkata kepadaku, “kemarilah hingga aku berlomba denganmu.” Lalu beliau berlomba denganku dan aku mampu mendahuluinya. …. (H.R. An Nasai)

23.  Memberikan kesenangan kepada Istri

Dari Said bin Yazid bahwa ada seorang wanita menghadap Rasulullah SAW, beliau kemudian berkata, “wahai Aisyah, tahukan engkau siapakan wanita ini ?” Aisyah berkata : “tidak wahai Nabi Allah”. Kemudian Beliau berkata, “Ini adalah budak yang pandai bernyanyi dari Bani Fulan, suka kah engkau bila dia bernyanyi untukmu?” Aisyah menjawab : “Ya”. Kemudian beliau memberi wanita itu sebuah talam, dan dia pun menyanyi. (H.R. Ahmad dan Thabrani)

24.  Memperhatikan perasaan Isteri.

Setiap wanita memiliki perasaan cumburu terhadap suaminya, termasuk juga istri-istri Nabi, terhadap masalah ini Rasulullah menjaga perasaan yang berkenaan dengan hak-hak seluruh istrinya.

Anas bin Malik ra berkata : “Rasulullah SAW mengadakan walimah ketika menikah dengan Zaenab binti Jahsy. Maka orang-orang pun kenyang dengan roti dan daging. Kemudian beliau ke luar menuju beberapa bilik ummahatul mukminin(istri-istri beliau) sebagaimana yang biasa belaiu lakukan pada pagi hari beliau menikah. Lalu beliau mengucapkan salam kepada mereka, dan mereka mengucapkan salam kepada beliau, serta beliau mendoakan mereka dan merekapun mendoakan beliau (H.R. Muslim)

Kecemburuan sebagian istri terkadang mendorong mereka untuk mendoakan kejelekan bagi suami atau istri yang baru, ataupun terhadap kedua-duanya. Ucapan salam beliau kepada istrinya dan sebaliknya menunjukan bukti cinta, kasih sayang serta kelembutan dari suami dan istri. Mereka tidak saling menghinakan, malah saling mendoakan. Mendatangi dan mendoakan istri yang tua merupakan puncak kasih sayang dan peduli kepadanya, sehingga kehadiran istri yang baru tidak akan menjadi ancaman dan melupakan istri yang lama.
Demikian indah perilku yang dicontohkan Rasulullah kepad istri-istri beliau, bisakah kita ummatnya meniru kesemua (24) prilaku Rasul di atas ?. Jika kita tidak bisa melaksanakan seluruhnya maka jangan kita tinggalkan seluruhnya, sebagian saja telah bisa kita laksanakan dari 24 prilaku Rasul terhadap istrinya, insya Allah hal itu akan menjadi modal kita untuk bisa melakukan sebagian besar apa-apa yang dicontohkan Rasul bagi ummatnya dalam berbagai hal.
Jika kita berusaha melakukan apa-apa yang telah dicontohkan Rasul di atas, masih takutkah kita (para suami) dicap sebagi suami takut istri ? (naudzubillah).

Wallahu ‘alam bishshawab

Sumber : Muhammad SAW the Super Leader Super Manager
Karya    : Dr Muhammad Syafii Antonio M.Ec

Tiada ulasan:

Catat Ulasan